Pertumbuhan ekonomi tidak menjamin pertumbuhan yang kaya lapangan kerja dan inklusif, laporan terbaru ILO

Kendati dampak negatif krisis keuangan global dirasakan hampir di seluruh wilayah, Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang positif baik pada 2009 maupun pada 2010. Pertumbuhan perekonomian Indonesia pertahunnya diperkirakan lebih dari 6 persen di masa mendatang. Pertumbuhan yang cepat ini tidak menjadi jawaban bagi berbagai tantangan pasar tenaga kerja yang ada, demikian laporan terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) untuk Indonesia.

Press release | 14 April 2011

JAKARTA (Berita ILO): Kendati dampak negatif krisis keuangan global dirasakan hampir di seluruh wilayah, Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang positif baik pada 2009 maupun pada 2010. Pertumbuhan perekonomian Indonesia pertahunnya diperkirakan lebih dari 6 persen di masa mendatang. Pertumbuhan yang cepat ini tidak menjadi jawaban bagi berbagai tantangan pasar tenaga kerja yang ada, demikian laporan terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) untuk Indonesia. Laporan ini akan diluncurkan pada Kamis, 14 April, di Hotel InterContinental Mid Plaza, Jakarta, dari pukul 12 – 16 WIB.

Laporan, Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2010: Mewujudkan pertumbuhan ekonomi menjadi penciptaan lapangan kerja, menegaskan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia memiliki potensi-potensi yang belum tergali untuk menghasilkan lapangan kerja yang produktif. Tingkat pengangguran telah menurun; namun, indikator-indikator pasar tenaga kerja lainnya memperlihatkan gambaran lain dari kinerja pasar tenaga kerja Indonesia. Kualitas lapangan kerja yang tersedia masih tertinggal dari pertumbuhan jumlah lapangan kerja.

Meski terjadi perluasan ekonomi dan kerja, kondisi lapangan kerja informal, yang kerapkali dikenal sebagai pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang rendah serta kegiatan kerja yang tidak aman, belum mengalami perubahan. Kesempatan kerja bagi kaum muda (usia 15-24) pun masih belum berkembang sejak awal 1990-an. Dalam arti, pasar tenaga kerja Indonesia tidak pernah sepenuhnya pulih dari dampak krisis keuangan Asia 1997/98.

“Dalam banyak hal, Indonesia lebih mampu mengatasi krisis keuangan global dibandingkan banyak negara lainnya dan prospek ekonomi di tahun-tahun mendatang pun terbilang cerah. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Indonesia dapat menangkap peluang ini dan mendorong keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan,” ujar Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia.

Laporan ini menganalisa penyebab dari defisiensi dalam penciptaan lapangan kerja yang produktif. “Perekonomian Indonesia telah bergeser ke sektor jasa, namun pengembangan pendidikan dan keterampilan tidak sejalan dengan perubahan mendasar dalam permintaan keterampilan yang diperlukan,” kata pengarang laporan ini, Kazutoshi Chatani, Staf Teknis (ekonom) dari Kantor ILO Jakarta.

Menurut laporan ini, Indonesia telah kehilangan daya saing dalam manufaktur padat karya dan pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan telah diambilalih oleh sektor jasa yang membutuhkan keterampilan yang relatif tinggi. Kesenjangan upah antara lulusan universitas dengan lulusan pendidikan menengah atau dasar semakin melebar, mencerminkan adanya ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan keterampilan.

“Indonesia dikaruniai potensi ekonomi yang besar,” ujar sang pengarang laporan ini yang tetap merasa optimis, namun dengan tegas menyerukan perlunya “seperangkat kebijakan yang akan dapat mendorong masyarakat menggali potensi yang ada dan menciptakan lapangan kerja yang produktif”. Laporan menekankan bahwa lembaga pasar tenaga kerja yang lemah (misalnya ketidakpastian pendapatan, dialog sosial dan perundingan bersama yang terbatas), koordinasi pengembangan dan sertifikasi keterampilan yang tidak efektif, peraturan usaha yang memberatkan serta jaminan sosial yang tidak berkembang merupakan bidang-bidang yang membutuhkan perhatian para pembuat kebijakan.

Selain menganalisa pasar tenaga kerja di tingkat nasional, ILO pun menaruh perhatian pada kondisi ketenagakerjaan di tingkat provinsi mengingat besarnya perbedaan dalam keluaran pasar tenaga kerja dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Mempertimbangkan adanya perbedaan kebutuhan dalam intervensi kebijakan di tingkat provinsi, ILO juga melakukan diagnosa pertumbuhan ketenagakerjaan di tiga provinsi di Indonesia: Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur dan Maluku.

“Keunikan dari struktur ekonomi dan beragamnya kondisi pasar tenaga kerja di masing-masing provinsi memerlukan analisis untuk kebijakan yang dibuat khusus untuk menanggulangi tantangan-tantangan khusus dari pasar tenaga kerja di tingkat provinsi,” kata Chatani, mengindikasikan fokus edisi berikutnya dari laporan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial untuk Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Kazutoshi Chatani
Staf Teknis (Ekonom)
Tel. +6221 3913112 ext. 119
Email

Gita Lingga
Humas
Tel. +6221 3913112 ext. 115
Email