Dampak kami, suara mereka

Wirausaha transgender membangun bisnis di Indonesia

Pendampingan bisnis membantu kaum transgender di Indonesia mengatasi diskriminasi dan mensukseskan usaha kecil mereka.

Feature | Jakarta, Indonesia | 01 September 2021
Lenny Sugiharto di depan restaurannya di Jakarta
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) – Selama bertahun-tahun, Lenny Sugiharto telah mencoba, dan beberapa kali gagal mewujudkan mimpi kesuksesan dalam menjalankan usaha kecilnya. Begitu pula dengan Arumce Mariska dengan bisnis fesyennya.

“Yang menjadi masalah adalah kurangnya pengetahuan tentang bisnis dan kurangnya kepercayaan diri dari pengusaha transgender untuk menjangkau pasar yang lebih besar dan untuk terhubung dengan wirausaha lain. Akibatnya, kami cenderung memfokuskan pasar kami di komunitas kami sendiri dan kesulitan untuk mempertahankan bisnis kami,” kata Arumce.

Arumce Mariska dengan bisnis pakaian jadinya
Laiknya transgender lainnya di Indonesia, Lenny Sugiharto dan Arumce Mariska pernah mengalami diskriminasi sosial yang ekstrem baik dalam kehidupan maupun di pasar kerja.

Sebuah studi ILO pada 2016 mengungkapkan bahwa hanya 10 persen transgender Indonesia bekerja di perekonomian formal. Kerap tidak memiliki akses terhadap ketenagakerjaan atau layanan dan fasilitas publik, banyak komunitas transgender menjalani kehidupan yang rentan di mana kesehatan dan keamanan fisik mereka terancam.

Pembatasan kegiatan masyarakat dan penutupan bisnis akibat pandemi COVID-19 membuat komunitas transgender di Indonesia semakin tidak terjamin secara ekonomi. Hal ini mendorong ILO meningkatkan dukungannya dengan pendampingan bisnis.

Pada 2020, Lenny dan Arumce bersama 50 pengusaha kecil lainnya, terpilih untuk mengikuti program pendampingan yang diselenggarakan oleh Program HIV/AIDS ILO di Dunia Kerja di Indonesia yang didanai oleh UNAIDS dan GED ILO/AIDS.

Program ini memberikan keterampilan dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan oleh para transgender untuk memulai usaha mereka. Ini juga menghubungkan mereka dengan usaha kecil dan menengah yang ada.

Early Dewi Nuriana, staf program ILO untuk pencegahan HIV, menjelaskan: “Membangun hubungan dengan wirausaha lokal lainnya merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih mendukung dan saling menghormati bagi komunitas transgender, dan untuk meruntuhkan banyak hambatan yang dihadapi karena mereka cenderung melakukan bisnis dalam komunitas mereka sendiri dan tidak memiliki akses untuk berinteraksi dengan wirausaha lain.”

Selama delapan minggu, para peserta menghadiri serangkaian lokakarya daring di mana mereka belajar menyusun rencana bisnis, memilih tempat pertemuan, memperkirakan biaya awal dan biaya operasional, serta menetapkan harga. Dua belas peserta, termasuk Lenny dan Arumce, juga menerima pendampingan pribadi dan kunjungan bisnis mingguan.

Lenny memutuskan untuk mengonsolidasikan warung kecilnya di Jakarta, di mana dia menyajikan makanan rumahan kepada pelanggannya. Ia juga memanfaatkan ilmu yang didapat dari program ini untuk mendapatkan dukungan finansial dari sebuah organisasi dan pada awal tahun 2021, tiga bulan setelah menyelesaikan kursusnya, ia menyambut pelanggan di warung barunya, Warung Makcik, di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Dalam beberapa minggu saja, menu masakan lokalnya telah beromzet senilai US$20–50 (antara 200.000 dan 500.000 rupiah) per hari.

“Saya merasakan semangat baru setelah menjalani pendampingan intensif. Saya lebih percaya diri untuk memulai usaha dan termotivasi untuk belajar,” ujarnya. Menggunakan teknik yang dibagikan selama pelatihan, Lenny telah menguji dan menambahkan item menu baru, yang juga tersedia melalui aplikasi daring.

Di sisi lain, Arumce telah berpartisipasi dalam bazaar daring, mempromosikan dan memperluas bisnis fesyen dan syal siap pakai. Selain pemasaran digital, ia belajar mengubah kreasi tie-dye shibori-nya menjadi produk premium dengan menggunakan pewarna organik alami alih-alih pewarna sintetis. Dia juga mulai melakukan pembukuan dan meningkatkan layanan pelanggannya.

“Penjualan saya sekarang meningkat, dan saya dapat mengembangkan bisnis saya, menjangkau pelanggan kami di luar Yogyakarta melalui pemasaran daring,” katanya.

“Dengan memiliki wirausaha transgender yang menjadi panutan dalam berbisnis, kami berharap dapat mempromosikan kesempatan kerja yang setara, dan berbagi praktik baik yang dapat direplikasi oleh komunitas transgender lainnya,” kata Nuriana.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Early Dewi Nuriana
Koordinator proyek
Program HIV/AIDS di Dunia Kerja di Indonesia
Email