Dampak kami, suara mereka

Transformasi digital para instruktur BLK

Dua instruktur perempuan di Balai Latihan Kerja (BLK) di Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan merintis tranformasi pelatihan digital di wilayah mereka. Mereka merupakan dua peserta program pelatihan ILO bersama Kementerian Ketenagakerjaan.

Feature | Jakarta, Indonesia | 08 March 2021
Irma Adyatni bersama para siswanya di BLK Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan
Pandemi COVID-19 semakin mempercepat terjadinya transformasi digital di dalam dunia pendidikan dan pelatihan, termasuk bagi para instruktur Balai Latihan Kerja (BLK). Irma Adyatni dan Wiwiek Hayyin, dua instruktur BLK yang saling terpisah 1.450 kilometer di Kalimantan Selatan dan Jawa Tengah, adalah contohnya.

Penggunaan teknologi AR dapat memudahkan dan mengoptimalkan penerimaan siswa terkait sejumlah materi pelatihan. Misalnya topik tentang sanitasi ruangan di mana dengan teknologi AR siswa dapat langsung melihat bentuk mikroba jahat sehingga mampu memperdalam teknik sanitasi yang benar dan baik."

Irma Adyatni, BLK Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan
Sama-sama berusia 38 tahun, Irma dan Wiwiek merupakan dua peserta dari 180 instruktur yang mengikuti pelatihan pembuatan konten dan penyampaian pelatihan daring yang diselenggarakan oleh ILO bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Skilvul, platform pendidikan teknologi, pada tahun lalu.

Irma Adyatni, yang sehari-hari bertugas sebagai instruktur di BLK Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, kini mengampu 32 siswa yang terbagi ke dalam dua kelas mengenai pengolahan pangan lokal: Pembuatan roti menggunakan labu kuning dan pengolahan tempe dari biji karet. Pemberian materi pelatihan dilakukan lewat aplikasi Google Classroom. Sementara untuk kuis dan tes sumatif, ia lakukan dengan gamifikasi agar lebih menantang dengan mempergunakan aplikasi Quizizz.

“Kalau untuk tes, mereka lebih senang daring daripada mengerjakan di kertas,” sebut Irma.

Sementara Wiwiek Hayyin yang dalam kesehariannya adalah seorang instruktur BLK di Kota Pekalongan, Jawa Tengah mengampu kejuruan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kendati pengajaran di BLK masih dilakukan secara luring, ia menyiasati dengan memberikan materi ajar secara digital dalam bentuk konten video yang dihasilkannya setelah turut pelatihan. Pemberian pra-tes dan paska-tes pun dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Google Formulir.

“Belum adanya jaringan internet di tempat saya mengajar saya siasati dengan menjadikan perangkat telekomunikasi sebagai wifi hotspot selama pra-tes dan paska-tes. Ini penting agar dapat memulai memperkenalkan dunia digital ini,” ungkap Wiwiek.

Melangkah ke depan

Belum adanya petunjuk teknis dari Kementerian Ketenagakerjaan mengenai pelatihan daring ataupun model pembelajaran campuran, tidak menghentikan baik Irma maupun Wiwiek untuk mengembangkan rencana transformasi pembelajaran digital di BLK mereka masing-masing.

Wiwiek Hayyin, instruktur dari BLK Pekalongan
Mereka berdua, misalnya, berencana untuk membuat Learning Management System (LMS) yang akan semakin memperkuat transformasi pendidikan digital yang kini sudah mulai terjadi. Namun, mereka pun memiliki rencana pengembangan lainnya sesuai dengan kebutuhan BLK tempat mereka mengajar.

Ini pun akan semakin memperluas daya jangkau serta memperbesar kapasitas kelas pelatihan lewat metode daring."

Wiwiek Hayyin, Instruktur BLK Pekalongan, Jawa Tengah
Untuk jangka pendek, misalnya, Irma berniat mengunggah materi pelatihan pengolahan hasil pertanian secara terpusat ke layanan komputasi awan. Tujuannya agar mudah diakses oleh siswa ataupun instruktur lain. Sementara untuk jangka yang lebih panjang, ia menginginkan pelatihan berbasis teknologi AR (Augmented Reality) untuk topik keamanan pangan.

”Penggunaan teknologi AR dapat memudahkan dan mengoptimalkan penerimaan siswa terkait sejumlah materi pelatihan. Misalnya topik tentang sanitasi ruangan di mana dengan teknologi AR siswa dapat langsung melihat bentuk mikroba jahat sehingga mampu memperdalam teknik sanitasi yang benar dan baik,” ujar Irma yang menyelesaikan program masternya di Universitas Purdue, Amerika Serikat.

Sementara Wiwiek aktif menulis tentang sejumlah peluang dan kesempatan melakukan pembelajaran secara daring di ruang publik guna semakin mendorong percepatan transformasi digital ini. Salah satu tulisannya yang terbaru bertajuk “Blended Learning BLK Online” diterbitkan oleh salah satu media online pada Oktober lalu.

Infrastruktur internet yang kurang memadai di kedua wilayah ini, menurut Irma dan Wiwiek, masih menjadi kendala utama. Kendati mereka menyiasatinya dengan menggunakan hingga tiga layanan telekomunikasi dari tiga operator seluler berbeda, mereka berharap adanya peningkatan infrastruktur memadai.

”Pelatihan berbasis teknologi ini tidak hanya relevan sebagai respons darurat saat pandemi COVID-19, tapi juga dapat menjadi salah satu cara mengembangkan BLK di masa depan,” kata Irma. ”Ini pun akan semakin memperluas daya jangkau serta memperbesar kapasitas kelas pelatihan lewat metode daring,” Wiwiek melengkapi.

Regulasi pelatihan daring di BLK

Direktorat saya saat ini sedang menyelesaikan juknis tentang bagaimana instruktur BLK membuat pelatihan daring. Ini akan menjadi tolak ukur penilaian bagi para instruktur kelak dan memberikan panduan mengenai penyelenggaran pelatihan digital yang efektif."

Fauziah, Direktur Bina Instruktur dan Tenaga Pelatihan di Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan
Terkait dengan regulasi yang mengatur pelatihan daring di BLK, Direktur Bina Instruktur dan Tenaga Pelatihan di Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan, Fauziah mengatakan saat ini sudah dibuat petunjuk teknis (juknis) terkait. Juknis itu dibuat Direktorat Bina Standardisasi Kompetensi dan Pelatihan Kerja di Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan.

”Sementara direktorat saya saat ini sedang menyelesaikan juknis tentang bagaimana instruktur BLK membuat pelatihan daring. Ini akan menjadi tolak ukur penilaian bagi para instruktur kelak dan memberikan panduan mengenai penyelenggaran pelatihan digital yang efektif,” ujar Fauziah.

Diharapkan keberadaan juknis ini akan semakin mempercepat transformasi pelatihan digital di Indonesia, terutama di BLK-BLK dan dapat menjangkau semakin luas lagi kepesertaan dari seluruh negeri.

Kegiatan ini dilakukan ILO melalui Program Kesiapan dan Pengembangan Angkatan Kerja Perempuan dalam STEM yang didanai oleh J.P. Morgan Chase Foundation dan berupaya memberikan pelatihan bagi kaum perempuan di Thailand, Indonesia dan Filipina untuk keterampilan non-teknis dan teknis terkait STEM, kemampuan kerja dan kepemimpinan.